Langsung ke konten utama

Puasa Bedug: Tarbiyah atau Rukhsah ?

Puasa Bedug: Tarbiyah atau Rukhsah? | MIS Kasim
Puasa Bedug MI Salafiyah Kasim

Puasa Bedug : Tarbiyah atau Rukhsah ?

Penulis: Ibu Munika Duri | 27 Februari 2026

Puasa bedug adalah istilah yang akrab di tengah masyarakat untuk menyebut latihan puasa setengah hari bagi anak-anak, biasanya hingga waktu Dzuhur. Dalam pandangan Islam, hal ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi bagian dari tarbiyah—proses membentuk karakter, kesabaran, dan kecintaan pada ibadah sejak dini.

Di sisi lain, karena anak yang belum baligh belum memikul kewajiban penuh, puasa bedug juga dapat dipahami sebagai bentuk rukhsah (keringanan) yang memberi ruang belajar sesuai kemampuan mereka.

"Kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa, kami buatkan bagi mereka mainan dari kain. Jika mereka menangis, maka kami beri mainan itu, begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka." (HR. Sahih Bukhari no. 1960 & Sahih Muslim no. 1136)

Landasan pendidikan ini sejalan dengan hadis dari Rubayyi' binti Mu'awwidz radhiyallahu ‘anha. Hadis ini menunjukkan bahwa para sahabat telah melatih anak-anak berpuasa dengan pendekatan penuh kasih dan bertahap. Ada unsur kesabaran, kreativitas, dan pendampingan agar ibadah terasa menyenangkan.

Tradisi puasa bedug pun berjalan dengan nuansa kebersamaan : sahur bersama keluarga, belajar menahan diri, lalu berbuka sesuai waktu yang disepakati. Inilah jembatan menuju puasa penuh saat kewajiban itu tiba.

✨ Semangat Siswa Kelas 1 MIS Kasim

Yuk jadikan puasa bedug sebagai latihan sungguh-sungguh, belajar kuat, jujur, dan sabar. Hari ini mungkin setengah hari, tetapi kelak kalian akan siap menuntaskan sehari penuh dengan bangga dan penuh keimanan !

"Bagaimana pengalaman Ayah dan Bunda dalam melatih ananda berpuasa pertama kali? Mari berbagi cerita di kolom komentar ya! 👇"

Komentar

  1. namanya Gading Abrizam Pangarep kelas 1, alhamdulillah puasa tahun ini puasa ke 2 untuk Izam, alhamdulillahnya masih semangat puasa dianya, tapi ya selalu di selimuti dg Drama Kolosal di setiap harinya, mlai dari ngeluh lapar sampai diam seribu bahasa di jama jam rawannya, menurut saya itu wajar karna memang diusianya msh blm 100% bisa menahan hawa nafsu lapar dll, tapi menurut saya ketika berada di fase Dramanya saya tidak perlu mengomelinya, cukup dg memberi dia ruang untuk berdamai dg rasa menahannya, Alhamdulillah bisa selalu tembus di adzan magrib🥰🥰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. MasyaAllah, keren sekali parentingnya, bun😇 Semoga mas Izam bisa istiqomah sampai finish nggih

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puskesmas Selopuro Wujudkan Siswa Sehat di MI Salafiyah Kasim

POPM Anak Sekolah Dasar di MI Salafiyah Kasim

Pembelajaran Al-Qur'an dengan Metode Tilawati